Hukum Huruf Ra
Kapan ra dibaca tipis, kapan tebal, perbedaan pendapat pada kata firqin, dan cara menyembunyikan getaran ra yang bertasydid.
الرَّاءَاتُ
Bab ini menjelaskan kapan huruf ra dibaca tipis dan kapan dibaca tebal.
وَرَقِّقِ الرَّاءَ إِذَا مَا كُسِرَتْكَذَاكَ بَعْدَ الْكَسْرِ حَيْثُ سَكَنَتْRa dibaca tipis (tarqiq) dalam dua keadaan: • Ra berharakat kasrah, contohnya: رِجَالٌ، الْغَارِمِينَ. • Ra sukun yang didahului kasrah, contohnya: فِرْعَوْنَ، مِرْيَةٍ.
إِنْ لَمْ تَكُنْ مِنْ قَبْلِ حَرْفِ اسْتِعْلَاأَوْ كَانَتِ الْكَسْرَةُ لَيْسَتْ أَصْلَاRa sukun setelah kasrah tetap dibaca tebal dalam dua keadaan: • Setelah ra ada huruf isti'la dalam satu kata, contohnya: قِرْطَاسٍ، فِرْقَةٍ، لَبِالْمِرْصَادِ. • Kasrah sebelumnya bukan kasrah asli, misalnya hamzah washal atau kasrah yang muncul karena bertemunya dua sukun, contohnya: ارْجِعُوا، إِنِ ارْتَبْتُمْ.
وَالْخُلْفُ فِي فِرْقٍ لِكَسْرٍ يُوجَدُوَأَخْفِ تَكْرِيرًا إِذَا تُشَدَّدُ• Para ulama berbeda pendapat tentang ra pada kata فِرْقٍ (Asy-Syu'ara: 63) ketika dibaca washal. Huruf isti'la setelahnya, yaitu qaf, berharakat kasrah, sehingga ketebalannya melemah. Karena itu ra di sini boleh dibaca tebal maupun tipis. • Ra bertasydid jangan dibaca dengan getaran berulang. Sifat takrir pada ra harus disembunyikan, yaitu lidah cukup bergetar sekali, bukan seperti "rrr". Contoh: الرَّحْمَنِ، مُحَرَّرًا.
Selain keadaan di atas, misalnya ra berharakat fathah atau dhammah, atau ra sukun setelah fathah atau dhammah, ra pada dasarnya dibaca tebal. Rinciannya bisa dilihat pada materi tajwid "Hukum Ra Tebal dan Tipis".
Sudah memahami materi ini?