Tafsir ayat 2
وَلَيَالٍ عَشْرٍۙ
Wa layālin ‘asyr(in).
demi malam yang sepuluh,754)
754) Yang dimaksud dengan malam yang sepuluh adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Ada pula yang mengatakan sepuluh pertama dari bulan Muharam, termasuk di dalamnya hari Asyura, dan ada pula yang mengatakan sepuluh malam pertama dari bulan Zulhijah.
Tafsir tahlili
Berikutnya Allah bersumpah dengan “malam yang sepuluh”. Yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, yang merupakan hari-hari yang sangat dimuliakan beramal pada hari-hari tersebut, sebagaimana diinformasikan hadis berikut:
مَا مِنْ أَيَّامٍ اَلْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ اِلَى اللّٰهِ فِيْهِنَّ ِمنْ هَذِهِ الأيَّامِ. (رواه البخاري عن ابن عباس)
Tidak ada hari apa pun berbuat baik lebih dicintai Allah padanya daripada hari-hari ini. (Riwayat al-Bukhārī dari Ibnu ‘Abbās)
Akan tetapi, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Muharram, atau sepuluh hari pertama bulan Ramadan, atau sepuluh hari pertama setiap bulan.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.