Tafsir ayat 49
وَقَالُوْا يٰٓاَيُّهَ السَّاحِرُ ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَۚ اِنَّنَا لَمُهْتَدُوْنَ
Wa qālū yā ayyuhas-sāḥirud‘u lanā rabbaka bimā ‘ahida ‘indak(a), innanā lamuhtadūn(a).
Mereka berkata, “Wahai penyihir,680) berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya kami benar-benar akan menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk.”
680) Kata penyihir tidak mereka gunakan untuk tujuan menghina, tetapi justru untuk menghormati karena mereka sangat mengagungkan ilmu sihir.
Tafsir tahlili
Fir‘aun dan pengikut-pengikutnya merasakan bencana-bencana yang ditimpakan kepada mereka sangat dahsyat, lalu mereka memohon kepada Nabi Musa agar berdoa kepada Allah agar melepaskan mereka dari azab itu. “Wahai tukang sihir!” kata mereka, “Berdoalah kepada Tuhanmu sesuai dengan apa yang Dia janjikan kepadamu! Kami pasti menerima apa yang kau sampaikan.” Memanggil Nabi Musa tukang sihir sudah menunjukkan bahwa mereka menghina beliau dan tidak mempercayainya. Tetapi Nabi Musa tetap mengabulkan permintaan mereka, karena Allah memang telah menjanjikan kepadanya bahwa bila mereka beriman, azab itu akan dihentikan. Nabi Musa pun berdoa setelah mereka berjanji akan beriman, lalu Allah pun menghentikan azab tersebut.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.