Tafsir ayat 49
لَا يَسْـَٔمُ الْاِنْسَانُ مِنْ دُعَاۤءِ الْخَيْرِۖ وَاِنْ مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَـُٔوْسٌ قَنُوْطٌ
Lā yas'amul-insānu min du‘ā'il-khair(i), wa im massahusy-syarru fa ya'ūsun qanūṭ(un).
Manusia tidak pernah jemu memohon kebaikan dan jika ditimpa malapetaka, mereka berputus asa dan hilang harapan.
Tafsir tahlili
Ayat ini menerangkan keinginan-keinginan manusia untuk mencapai hal-hal yang menyangkut kepentingan dirinya. Sebagian besar manusia adalah orang-orang yang tamak, suka mencari harta dan mencari kesenangan untuk dirinya sendiri.
Mereka menginginkan harta dan kekuasaan, karena menurut mereka dengan harta dan kekuasaan itu semua cita-cita dan keinginannya akan tercapai. Mereka ingin keturunan, karena dengan keturunan itu mereka dapat mewariskan semua harta yang mereka peroleh dan akan selalu ada orang yang mengenang jasa dan keberhasilan mereka selama hidup di dunia. Mereka ingin memperoleh harta benda dunia sebanyak-banyaknya, karena itu mereka berlomba-lomba mencapainya, seakan-akan hidup dan kehidupan mereka dihabiskan untuk itu.
Dalam ayat ini, yang selalu diinginkan dan dicari manusia itu disebut “khair” (kebaikan). Disebut “khair” karena yang diinginkan manusia itu adalah kebaikan yang merupakan rahmat dan karunia Allah. Rahmat dan karunia Allah itu mereka jadikan tujuan yang harus dicapai dalam hidup dan kehidupan mereka di dunia ini, bukan sebagai alat atau jalan yang dapat mereka pergunakan untuk mencapai sesuatu yang lebih mulia dan lebih tinggi nilainya, sehingga rahmat dan karunia Allah yang semula adalah baik, mereka jadikan sumber bencana dan malapetaka karena hawa nafsu mereka yang dapat menimpa diri mereka sendiri atau orang lain.
Maksud “mencari kebaikan” dalam ayat ini ialah menginginkan, berusaha, mencari, menuntut dan menjadikan kebaikan itu sebagai alat dan jalan mencapai tujuan hidup di dunia dan akhirat, bukan untuk mencari kebaikan agar kebaikan itu dapat dijadikan alat dan jalan mencapai tujuan yang diinginkan hawa nafsu. Mencari kebaikan untuk memenuhi keinginan hawa nafsu dapat menimbulkan malapetaka bagi yang mencarinya. Tetapi, jika mencari kebaikan itu tujuannya agar kebaikan itu dapat dijadikan alat dan jalan untuk mencari keridaan Allah, maka mencari kebaikan yang demikian dianjurkan oleh agama Islam.
Misalnya, seseorang berusaha mencari harta yang halal agar dengan harta itu ia dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai hamba Allah, seperti memberi nafkah keluarganya, berinfak di jalan Allah, menolong fakir miskin, dan sebagainya. Demikian pula, orang yang ingin mencari pangkat dan kekuasaan, ia boleh mencarinya dengan maksud menegakkan keadilan, menegakkan hukum-hukum Allah, dan menolong orang-orang yang sengsara. Usaha yang demikian adalah usaha yang terpuji dan diridai Allah.
Jadi, mencari kebaikan itu pada hakikatnya baik jika kebaikan yang diperoleh itu dijadikan alat dan jalan untuk mencari keridaan Allah. Tetapi, mencari kebaikan itu akan merusak jika kebaikan itu digunakan untuk memenuhi hawa nafsu.
Sifat manusia yang lain ialah jika kebaikan yang dicari itu tidak diperolehnya atau mereka ditimpa suatu musibah, maka mereka menjadi putus asa, seakan-akan tidak ada harapan lagi bagi mereka, tidak ada lagi bumi tempat berpijak dan tidak ada lagi langit tempat berteduh, semua yang mereka inginkan itu seakan-akan sirna. Dalam keadaan yang demikian, mereka menjadi berputus asa dari rahmat Allah dan berprasangka buruk terhadap Allah seakan-akan Allah tidak mempunyai sifat kasih sayang dan bukan Maha Pemberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.