Tafsir ayat 42
لَّا يَأْتِيْهِ الْبَاطِلُ مِنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهٖ ۗتَنْزِيْلٌ مِّنْ حَكِيْمٍ حَمِيْدٍ
Lā ya'tīhil-bāṭilu mim baini yadaihi wa lā min khalfih(ī), tanzīlum min ḥakīmin ḥamīd(in).
Tidak ada kebatilan yang mendatanginya, baik dari depan maupun dari belakang.672) (Al-Qur’an itu adalah) kitab yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
(672 Maksud ungkapan dari depan maupun dari belakang adalah pada masa lalu dan yang akan datang.
Tafsir tahlili
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang membatalkan ayat-ayat Al-Qur’an, walaupun itu kitab-kitab Allah yang terdahulu, seperti Taurat, Zabur, dan Injil, dan tidak satu pun kitab Allah yang datang setelah Al-Qur’an. Arti ini sesuai dengan pendapat Sa‘īd bin Jubair dan al-Kalbī.
Pada akhir ayat ini diterangkan bahwa seluruh Al-Qur’an itu benar, tidak ada yang salah sedikit pun, karena Al-Qur’an berasal dari Allah, Tuhan semesta alam. Semua yang berasal dari Allah adalah benar belaka, tidak ada satu pun yang kurang, yang salah, atau tidak sempurna. Dia Mahabijaksana dan Maha Terpuji.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.