Tafsir ayat 9
يٰمُوْسٰٓى اِنَّهٗٓ اَنَا اللّٰهُ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ۙ
Yā mūsā innahū anallāhul-‘azīzul-ḥakīm(u).
(Allah berfirman,) “Wahai Musa, sesungguhnya Aku adalah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Tafsir tahlili
Ketika Musa datang mendekat ke arah api itu, ternyata yang disangkanya api itu bukan seperti api yang biasa dilihatnya, tetapi cahaya yang memancar dari sejenis tumbuh-tumbuhan rambut berwarna hijau yang melilit dan menjuntai pada sebuah dahan kayu. Cahaya yang terpancar dari pohon itu bersinar cemerlang, sedang dahan pohon itu tetap hijau dan segar, tidak terbakar atau layu.
Musa tidak menemukan seorang pun di tempat itu, sehingga ia merasa heran dan tercengang melihat keadaan yang demikian. Ia bermaksud hendak memetik sebagian dari nyala api itu dari dahan yang condong kepadanya. Waktu ia mencoba menyulut nyala api itu, Musa merasa takut. Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba ia diseru oleh satu suara yang datangnya dari arah pohon itu. Suara yang menyeru itu menyatakan bahwa yang berada di dekat api itu pasti diberkahi, yaitu Musa dan para malaikat. Pernyataan itu merupakan salam dan penghormatan dari Allah kepada Nabi Musa sebagaimana salam para malaikat kepada Nabi Ibrahim dalam firman-Nya:
رَحْمَتُ اللّٰهِ وَبَرَكٰتُهٗ عَلَيْكُمْ اَهْلَ الْبَيْتِ
Rahmat Allah dan berkat-Nya, dicurahkan atas kamu wahai ahlulbait. (Hūd/11: 73)
‘Abdullāh bin ‘Abbās menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “diberkahi” di sini ialah yang disucikan Allah. Menurutnya, yang kelihatan oleh Nabi Musa seperti api itu bukanlah api, melainkan cahaya yang menyala-nyala seperti api. Cahaya itu adalah cahaya Tuhan Semesta Alam. Hal ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan Abū ‘Ubaidah dari Abū Mūsa al-Asy’arī bahwa Nabi Muhammad bersabda:
اِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَنَامُ وَلاَ يَنْبَغِىْ لَهُ اَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ اِلَيْهِ عَمَلُ الَّليْلِ قَبْلَ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّوْرُ لَوْ كَشَفَهُ َلأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَاانْتَهَى اِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ. (رواه مسلم)
Sesungguhnya Allah tidak tidur dan tidak pantas bagi Allah itu tidur, Dia menurunkan dan menaikkan timbangan, amal malam hari diangkat ke hadapan-Nya sebelum siang, dan amal siang sebelum malam, dan tabir-Nya adalah cahaya. Andaikata Ia membuka tabir-Nya, pasti kesucian cahaya wajah-Nya membakar segala sesuatu yang tercapai oleh pandangan-Nya di antara ciptaan-Nya. (Riwayat Muslim)
Peristiwa itu terjadi ketika Musa sampai di tempat yang diberkahi, yaitu lembah suci yang bernama Lembah Ṭuwa, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:
نُوْدِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْاَيْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ
... Dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi.... (al-Qaṣaṣ/28: 30).
Dan firman Allah yang berbunyi:
اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ ١٦
Ketika Tuhan memanggilnya (Musa) di lembah suci yaitu Lembah Ṭuwa. (an-Nāziāt/79: 16).
Seruan Allah yang didengar Musa di lembah suci Ṭuwa ini merupakan wahyu pengangkatan Nabi Musa sebagai rasul. Ia diutus Allah untuk menyampaikan risalah kepada Fir‘aun di Mesir, dengan dibekali bermacam-macam mukjizat.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.