Tafsir ayat 96
قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوْا بِهٖ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذٰلِكَ سَوَّلَتْ لِيْ نَفْسِيْ
Qāla baṣurtu bimā lam yabṣurū bihī fa qabaḍtu qabḍatam min aṡarir-rasūli fa nabażtuhā wa każālika sawwalat lī nafsī.
Dia (Samiri) menjawab, “Aku melihat sesuatu yang tidak mereka lihat. Kemudian, aku ambil segenggam (tanah) bekas jejak rasul (Jibril) lalu aku lemparkan (ke dalam mulut patung anak sapi).479) Demikianlah nafsuku membujukku.”
479) Menurut jumhur ulama, yang dimaksud dengan jejak rasul adalah jejak telapak kuda Jibril a.s. Pendapat ini menjelaskan bahwa Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak telapak kuda itu lalu melemparkannya ke arah patung anak sapi yang berasal dari leburan perhiasan emas tadi sehingga patung itu mengeluarkan suara. Adapun sebagian kecil mufasir berpendapat bahwa jejak rasul di sini adalah ajaran-ajarannya. Menurut pemahaman ini, Samiri mengambil sebagian ajaran Nabi Musa a.s. kemudian meninggalkan ajaran-ajaran itu sehingga dia menjadi sesat.
Tafsir tahlili
Samiri menjawab bentakan dan hardikan Musa. Aku telah mengetahui sesuatu yang belum diketahui oleh kaummu, maka aku buatlah sebuah patung dari emas yang dibawa dari Mesir berbentuk anak sapi dan aku jadikan patung itu seindah-indahnya untuk menarik perhatian mereka. Demikianlah pendapatku dan tindakan itulah yang paling baik menurut pikiranku. Menurut sebagian Mufasirin, Samiri menjawab bentakan Musa dengan jawaban yang aneh sehingga dapat meninggalkan kesan seolah-olah dia telah mendapat wahyu pula dari Tuhan dan telah berhubungan dengan Jibril serta telah mengenalnya. Samiri mengatakan bahwa ia membakar emas yang dibawa mereka dari Mesir di dalam lubang yang mereka buat sendiri dia mengambil segenggam tanah bekas jejak telapak kaki Jibril maka keluarlah dari lubang itu sesuatu yang serupa anak sapi. Dengan demikian tertariklah sebagian Bani Israil kepada bujukan dan tipu daya Samiri untuk menyembah patung berbentuk anak sapi itu. Karena patung anak sapi itu bukanlah sembarang patung, tetapi benar-benar telah dikirim Allah untuk disembah dan dipujanya.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.