Tafsir ayat 55
وَكَانَ يَأْمُرُ اَهْلَهٗ بِالصَّلٰوةِ وَالزَّكٰوةِۖ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهٖ مَرْضِيًّا
Wa kāna ya'muru ahlahū biṣ-ṣalāti waz-zakāh(ti), wa kāna ‘inda rabbihī marḍiyyā(n).
Dia selalu menyuruh keluarganya463) untuk (menegakkan) salat dan (menunaikan) zakat. Dia adalah orang yang diridai oleh Tuhannya.
463) Sebagian mufasir berpendapat bahwa yang dimaksud ahlahū ialah keluarganya, sedangkan sebagiannya berpendapat bahwa yang dimaksud adalah umatnya.
Tafsir tahlili
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Ismail selalu menyuruh keluarganya tetap mengerjakan salat dan menunaikan zakat, karena salat dan zakat itu telah disyariatkan semenjak Nabi Ibrahim. Risalah yang disam-paikan oleh Nabi Ismail adalah risalah yang dibawa oleh bapaknya Ibrahim. Meskipun yang diterangkan di sini hanya mengenai keluarganya tetapi perintah itu mencakup seluruh kaumnya karena rasul itu diutus bukan untuk keluarga semata tetapi diutus untuk semua umatnya. Nabi Muhammad sendiri pada mulanya hanya disuruh menyampaikan ajaran Islam kepada keluarganya dan kemudian baru diperintahkan mengajak seluruh manusia mengikuti ajaran yang dibawanya. Hal ini terdapat dalam firman Allah:
وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ ٢١٤
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat,(asy- Syu’arā’/26: 214)
Dan firman-Nya:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. (Ṭāhā/20: 132)
Kemudian Allah menerangkan bahwa Ismail itu adalah orang yang diridai Allah karena dia tidak pernah lalai menaati perintah Tuhannya, dan selalu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
Sumber: Al-Qur'an dan tafsir Kementerian Agama RI.