Nun dan Mim Bertasydid
Setiap nun dan mim bertasydid wajib dibaca dengan dengung yang sempurna, baik ketika bacaan disambung maupun dihentikan.
النُّونُ وَالْمِيمُ الْمُشَدَّدَتَانِ
Ghunnah (الغُنَّة) adalah dengung yang bersumber dari rongga hidung (khaisyum). Dengung ini selalu ada pada nun dan mim, apa pun keadaannya.
Ketika nun atau mim bertasydid, dengungnya mencapai kadar paling sempurna. Qari' wajib menahan dengung tersebut dengan utuh, baik ketika melanjutkan bacaan (washal) maupun ketika berhenti (waqaf) pada kata itu.
Contoh: • مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ • وَلَٰكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ • وَمَنْ نُعَمِّرْهُ • حَمَّالَةَ الْحَطَبِ • ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ • مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ • فَأَتَمَّهُنَّ • إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Catatan: tasydid pada نُعَمِّرْهُ dan مَالٍ dalam contoh di atas muncul karena nun sukun sebelumnya dilebur (idgham). Jadi, jika bacaan dimulai langsung dari kata tersebut, tasydidnya hilang dan huruf pertamanya dibaca tanpa dengung tambahan, karena tidak ada lagi huruf yang dileburkan.
Rujukan: Kitab "Tajwid Ringkas Disertai Warna, Gambar, dan Bagan" Level Satu, Husein Karim Muhammad (edisi bahasa Indonesia, terjemahan Ustadzah Ana Fi Naimatin).
Sudah memahami materi ini?